“Eh Ley… Si A egonya tinggi banget. Masa’ disuruh minta maaf aja beratnya melebihi batu gunung?”
Celetuk kawanku siang ini.
Hal yang menggelitik adalah kawanku inipun masih dalam perangkap egonya sendiri. Kenapa harus menunggu orang duluan yang meminta? Kenapa tidak memulainya dari diri sendiri?
Merasa tak bersalah hingga “ogah” mengalah?
Jujur akupun kadang demikian.
“Karena apa yang ku tulis adalah untuk menasehati diriku sendiri”__Leyla

Ego, berada pada ranah pengetahuan
Sedangkan Kesadaran berada pada ranah kebijaksanaan.
Ego adalah diri. Rasa diri, atau keakuan. Segala hal yang berifat aku, diri-ku, pikiran-ku, perasaan-ku, bersumber dari ego.
Ego ini penting, untuk manusia mempertahankan diri dan memenuhi kebutuhan misalnya.
Namun, jika seseorang terlalu mengedepankan egonya, sudah tentu akan menjadi orang yang sangat mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli pada kepentingan orang lain, hanya berkutat pada dirinya sendiri, terlebih melakukan berbagai hal, termasuk berbuat baik seperti contoh menolong orang lain pun dilakukan untuk memenuhi hasrat egonya sendiri. Bertujuan pada hasrat ingin dipandang, hasrat ingin dipuji, hasrat ingin menjadi hebat, hasrat ingin diakui, dan berbagai hasrat lainnya yang justru akan membahayakan diri orang itu sendiri.
Meski demikian ego pun tak bisa dihilangkan seutuhnya, karena tanpanya, kitapun tidak bisa memerankan fungsi kita di bumi ini. Iya kan?
Lalu setelah menikah, apa yang terjadi?
Pernikahan adalah penyatuan dua keluarga, dua kebiasaan dan dua manusia yang memiliki latar belakang berbeda, disatukan dibawah ikatan sah sebagai pasangan suami isteri.
Tak mudah menyatukan dua orang sebagai satu kesatuan dalam keluarga. Latar belakang adat istiadat dan kebiasaan sejak kecil yang di bawa tentu tak sama. Ketika menikah, hidup satu rumah, seringkali tak sejalan dan mulailah perbedaan-perbedaan itu terlihat. Banyak pasangan yang frustasi dengan keadaan ini, tak terkecuali pasangan lama sekalipun. Hal yang kecil saja bisa jadi pemicu pertengkaran.
Misalkan, si isteri sukanya rumah yang rapih, terbiasa diperlakukan dengan lembut, tiba-tiba hidup serumah dengan suami yang sembrono, kasar dan jorok. Mungkin bagi suami, ia merasa tak menyakiti isteri karena baginya apa yang ia lakukan adalah hal biasa. Tapi tidak dengan sang isteri. Pelan-pelan menyimpan dongkol dalam hati yang suatu hari siap meledak ketika ia tak sanggup lagi menutupi.
Inilah ego.
Tapi inilah kesadaran.
Bukan membuang ego, tapi memanage ego agar menjadi keinginan yang baik dan menghasilkan keadaan yang baik-baik.
Untuk suamiku, terkadang akupun kalah dengan egoku. Tapi bukan cuma aku, kaupun begitu. Kita manusia biasa yang tak pernah bisa sempurna. Mari belajar, mari saling asah dan asuh untuk ikatan sakral ini.