Takut gagal adalah gagal yang sejati. Takut mati adalah mati sebelum mati, seperti halnya pertandingan, menyerah sebelum bertanding adalah kekalahan didalam kekalahan, Takut mati karena merasa belum cukup amal? Itulah peringatan jiwa yang merindukan cahaya perbaikan. Kematian jadi sebuah pengingat dan pendongkrak semangat untuk terus mengumpulkan amalan-amalan baik, Hidup adalah bergerak untuk terus maju, berjuang, naik, jatuh lalu naik lagi. Kita tak pernah tahu apa yang akan benar-benar terjadi besok, makanya tak ada waktu yang boleh terbuang.
Kesempatan datang dengan tiba-tiba, lalu pergi dengan tiba-tiba juga. Dan orang yang berani menangkap kesempatan itulah yang sanggup menciptakan peluang besar menjadi sebuah keberuntungan gemilang. Saat engkau berani, saat itulah engkau mempunyai pribadi. Kualitas pribadi diri menentukan tempat yang pantas dalam pergaulan sosial.
Orang yang berani pasti tak akan terkalahkan, karena kekalahan hanya terjadi saat seseorang tak lagi memiliki kemauan untuk bangkit. Ia yang sanggup menghadapi segala kesulitan dengan tidak kehilangan akal adalah dia yang berani. Akan selalu ada jalan bagi setiap jiwa yang memiliki kemauan. Karena kemauan memunculkan niat, dan segala amalan itu bermula dari niat. Niat yang kuat insyaallah menghadirkan kekuatan.
Di tengah-tengah kehidupan yang serba gemerlap dengan gaya hidup materialisme, sekulerisme dan hedonisme fokus pada keduniawian yang memandang pada status quo harta, popularitas, tahta, jabatan, dan kekuasaan saat ini, membuat banyak orang melupakan hakikat hidup dan kehidupan setelahnya. Padahal setiap kita ingin mencari sesuatu maka yang didekati adalah sumbernya. Hingga akhirnya akan kita temui Dia saja sebagai sumber dari segala sumber . Mau apa lagi? Masihkah ingin mengelak dan menjauhi? Ah dasar manusia hakikatnya bersifat sombong, padahal suatu saatpun kita akan musnah oleh-Nya jua di dalam kematian.
Lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa gagasan. Sebagai seorang musafir kehidupan selayaknyalah kita memiliki bekal selama perjalanan. Ada saat dimana kita menjumpai jalanan yang terjal dan penuh bebatuan, ada saat kita menembus perjalanan dalam cuaca panas dan hujan, kadang kita berjalan di siang hari, adakala kita harus ikhlas berjalan di malam hari yang gelap. Dan berjalan di dalam gelap yang dibutuhkan ialah cahaya. Cahaya di maknai sebagai kebaikan. Maka yang baik hanya bersumber dari yang maha baik, yang indah hanya bersumber dari yang maha indah, yang benar hanya bersumber dari yang maha benar dan yang bercahaya hanya bersumber dari yang maha memiliki cahaya.