AKU HAMIL, SUAMI MENYAKITIKU

Alhamdulillah memang perempuan mahluk yang spesial, bisa merasakan bagaimana susahnya mencari nafkah dan uang, tapi laki-laki tak pernah bisa merasakan susahnya mengandung sampai melahirkan. Itu sebabnya perempuan lebih bisa mengerti bagaimana seharusnya ia menahan hasrat ingin berbelanjanya saat suami tak memiliki cukup uang. Tapi sebaliknya, lelaki sangat susah mengerti keadaan dan kebutuhan perempuan saat dimasa kehamilan.

Dimasa-masa itu, perempuan amat butuh bantuan dan dukungan lelakinya, baik secara moriil maupun materiil. Bukan mereka manja ketika mereka inginnya makan ini dan itu, rewel dan tiba-tiba bertingkah menyebalkan. Kalian tak pernah tahu hai kaum lelaki. Tubuh yang terasa melayang, pandangan yang rasanya memutar sehingga bumi ini terlihat terbalik semua, isi perut yang rasanya seperti diputar balikkan dan tubuh yang sakit sakit semua. Wallahu alam, Hanya Allah yang tahu deritanya seorang perempuan dan itu sebabnya Dia menjadikan perempuan itu spesial dan mendapat penghormatan tertiggi dari sang ayah ketika telah menjadi ibu. Itusebabnya jadi perempuan itu sebenarnya anugerah, ia bisa masuk surga lewat pintu mana saja sesuka hatinya hanya dengan beberapa persyaratan saja.
Apabila ia mengerjakan shalat, puasa dan zakat, apabila ia tidak durhaka pada orang tua dan menaaati suami.
Masalahnya adalah terkadang ahlak suami tidak bisa selalu ditaati. Suami bukanlah mahluk sempurna, yang seluruh tindakan dan ucapannya benar. Disinilah dilema kaum perempuan. Akan sangat sulit baginya menjalani kehidupan rumah tangga di bawah nahkoda yang salah.

Aku sebagai perempuan pernah, mengalami masa-masa berat selama kehamilanku. Suamiku sering bekerja di luar kota, dan aku sering sendirian dirumah, mengerjakan segala pekerjaan seorang diri. Kadang kelelahan, kadang merasa kesepian. Aku kerap merasa depresi dan sangat patah hati. Tiba-tiba saja aku jadi teramat sensitif. Well, itu pengaruh hormon. Seperti yang dijelaskan di artikel berikut: https://www.orami.co.id/magazine/mengapa-ibu-hamil-lebih-sensitif-dan-mudah-marah/

Aku merasa suamiku kurang mengerti keadaanku, akupun merasa suamiku minim pengetahuan tentang kondisi psikologis seorang wanita hamil. Aku hanya ingin dimengerti, disayang, diperhatikan dan dimanja-manja, tapi kerapkali suami menganggap keinginanku itu berlebihan.

Suatu hari, suatu peristiwa menyakitkan terjadi dalam kehidupan pernikahanku. Suami mulai berani membonceng wanita lain tanpa seizinku dan itu sangat menyakitkan, membuat kondisi psikologisku terganggu dan dilanda kesedihan berkepanjangan. Stress dapat menyebabkan kelahiran prematur, dan itu terjadi padaku dan bayiku.

Aku ingat, perempuan itu bernama Dita yang merupakan rekan kantornya.

Aku jelas marah, terlebih ketika suami memberiku alasan bahwa ia mengantar Dita karena Dita meminta tolong. Jelas jelas ketika aku yang meminta tolong padanya, justru ia banyak alasan dan kerap menolak dengan alasan sibuk dan lelah, tapi ketika wanita lain yang meminta, ia begitu mudah mengulurkan tangannya meski ia saat itu kelelahan sepulang kerja. Iapun rela membohongi aku isteri sahnya demi menolong rekan wanitanya. Kupikir suamiku benar2 keterlaluan dan aku tak akan bisa melupakan ini sampai kapanpun.

Apapun itu, wAllohu a`lam, mungkin tujuannya baik, mau mengantar (perhaps), ya tapi tetap saja masuk ke larangan khalwat. Niat baik tidak bisa membenarkan perbuatan yang caranya salah. Malah satu (yang nyopir) dapet keburukan (di sisi Allah), yang lain (yang numpang) juga dapet keburukan. Hal yang dianggap baik, sebenarnya dimurkai Allah. Maksudnya menolong, tapi justru menjerumuskan.

Khalwat (makani) artinya berdua di satu tempat dimana tidak ada orang lain. Dalam hal ini, motor dinilai sama dengan tempat, walaupun si pria (atau wanita) sedang mengemudikan motor. Ini kebanyakan tidak disadari, padahal juga termasuk menghadapi larangan:

“Janganlah salah seorang lelaki diantara kamu berkhalwat dengan perempuan
kecuali dengan mahramnya.” (HR Bukhari – Muslim)

Ungkapan itu berbentuk umum, tanpa pengecualian, mau itu bisa menjaga pandangan kek, ataukah tanpa disertai syahwat, sama saja. Pelarangannya tetap berlaku sebagaimana juga hukum haramnya. Khalwat juga tetap haram hukumnya walaupun bersama orang yang dipercaya, baik, dan sholeh sekalipun. Khalwat bertentangan dengan syari`at meski dengan dalih silaturrahim. Meremehkan khalwat berarti menyepelekan syari`at.

Dan…

Untuk para suami, hargailah perasaan isteri, hati kami ibarat kaca yang rapuh, mudah hancur dan serpihannya tak akan bisa utuh kembali. Kami akan selalu mengingat semua kejadian yang menyentuh perasaan kami hingga mati, dan luka tak akan pernah bisa sembuh seperti sebelum kau gores pisau dikulit kami.

KATANYA

Para pujangga sering bilang, katanya hidup ini terasa hampa tanpa cinta. Bagai obat, terasa candu dan menjadi penyemangat didalam keseharian. Benarkah?
Katanya, cinta itu buta. Pokoknya segala hal yang telah menyangkut hati dan perasaan susah untuk ditentang. Seolah logika kalah, apalagi bagi kaum perempuan yang dominannya ada pada perasaan. Hal remeh sekalipun mampu mengusik ketenangan hidupnya seharian. Itulah sebabnya wanita mengalami kekecewaan dan tingkat depresi lebih tinggi dari kaum pria.
Katanya, Jika cinta sudah bicara, segala hal terasa indah dan mudah. Makan ataupun tidak, punya uang ataupun tidak, direstui maupun tidak pokoknya asal bersama sang pujaan hati pasti semua terasa baik-baik saja. Benarkah?
Baiklah. Ini adalah tentang realita, sebab segala hal yang diangankan tidak akan pernah sama dengan apa yang dilalui kedepannya. Allah subhanahuata’ala adalah sebaik-baik perencana, Ia juga sebaik-baik penentu dan pemberi keputusan. Ketika Ia berkata jadi, maka jadilah sesuatu itu. Kun fayakun. Lalu segala rencana dan schedule rapi yang telah kita susunpun sia-sia, sebab rencana Allah-lah yang berlaku dan mau tak mau harus kita jalani.
Kadang tak jarang rasa sesal dan kesal hadir disaat-saat ini. Iya kan? Atau bahkan kadang dalam kondisi parah malah menyalahkan dan marah pada Tuhan. Emosi dan frustasi hanya berjarak tiga centi saja dari kepala. Namun pada beberapa orang adapula yang bermuhasabah, mencari tahu apa yang salah di dalam dirinya sehingga terasa semua jalan bagaikan buntu, gelap.
Lalu, segala analogi dan teori dari “katanya” itu hanya menjadi dongeng lalu belaka. Jika anda sedang dalam posisi ini, selamat! Anda sedang berada di gerbang menuju fase kedewasaan dan kebijaksanaan. Yang diperlukan bukanlah rasa marah dan putus asa melainkan anda dituntut untuk memikirkan dan mencari jalan keluar dengan kepala dingin, dada yang lapang dan tak mudah menyerah.

Selamat, atas kehidupan baruku. Akupun sedang menuju gerbang itu, bersama dia suamiku yang kuharap mampu membimbingku hingga ke jannah.

KESADARAN DIRI

Pikiran dan jiwa yang terkungkung pada perasaan “tak sanggup” hanya akan membuatmu menjadi insan kerdil tanpa sayap dan tanpa kaki. Kita hidup di Bumi yang terus berputar, semuanya bergerak cepat dan dinamis. Kita di tuntut terus aktif berpikir-berpikir dan berpikir. Begitu banyak Firman Allah SWT yang menjelaskan tentang keutamaan tindakan berpikir. Manusia hidup dibekali akal, untuk memilah mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia. Beberapa ide dan ilham kadang menyergap singgah di lintasan otak meski tak sempat untuk di rekam lewat tulisan, namun setidaknya itu adalah cara Tuhan untuk berkata bahwa ada campur tangan-Nya disetiap peristiwa. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kita ini butuh berpikir bebas dan terbuka yang tetap berlandaskan pada sikap religius.

Perlu kugaris bawahi disini bahwa berpikir bebas bukan dalam artian bebas yang tanpa pegangan melainkan bebas pada lingkaran universal yang luas dan tidak semata terkungkung pada dogma-dogma yang semakin hari semakin melenceng pada aturan yang semestinya. Sikap religius adalah refleksi dari nilai-nilai spiritual dari dalam diri seseorang yang bersumber pada sang Maha sumber. Bebas dalam mengeksplorasi pemikiran dan ide-ide sebenarnya memiliki beberapa keuntungan. Yang pertama akan melahirkan pemikiran-pemikiran filusuf dengan ide yang lebih segar dan bersifat konstruktif, dialektis, integralistis dan kritis, tak jarang juga para pujangga dilahirkan dengan bekal pemikiran terbuka dalam sistem pemikiran, pemahaman yang keterpaduannya menghasilkan sebuah keindahan kalimat dan itu dinamakan seni. Jadi dapat kita simpulkan bahwa ada keterkaitan antara seni dan spiritual.
Tentu saja pemikiran ini tidak lahir begitu saja, setiap ide berawal dari inspirasi, setiap inspirasi dimulai dari ilham, setiap ilham bersumber pada sang Maha sumber yaitu Allah azza wajalla sang maha pemilik ilmu. Ilmu sebagaimana cahaya, dan Allah pula sang pemilik cahaya itu. Sudah menjadi ketentuan bahwa tiap-tiap yang mendekati sumber cahaya pasti akan terkena biasnya. Maka inspirasi atau ilham akan sulit di dapat ketika seseorang berada diluar zona spiritual garis dimensi vertikal menuju sumber pengetahuan itu sendiri. Semakin ia berjalan ke arah kegelapan maka semakin menjauh pula bias cahaya disekitarnya yang menciptakan rasa gelap, sesak atau bahkan sempit di dada.

Ide-ide tak harus didapatkan hanya dari pendidikan akademi, tapi juga bisa didapat dari setiap peristiwa yang terjadi. Hal yang miris di negara ini adalah ketika kebanyakan orang bertanya “konsepnya apa dan itu teori siapa?” disaat seseorang mencoba menyampaikan sebuah gagasan dan pemikiran. Tak jarang gagasan-gagasannya langsung serta-merta dipatahkan hanya karena cara penyampaian dan gaya bahasanya berbeda dengan beberapa konsep dan teks yang pernah ada sebelumnya, meskipun inti dan tujuannya sama namun para manusia tekstual ini tak akan bisa mencerna dan memahami makna dan hakikat dari apa yang dipelajarinya tersebut. Konsep pemikirannya kaku pada batasan teks yang dipelajarinya saja tanpa tahu makna dan tujuannya.

Disinilah perbedaan ilmu hakikat dan ilmu tekstual. Setiap orang memang hanya menyampaikan sesuai dengan pemahamannya, dan pemahaman berkaitan pula dengan pencapaian akal yang kualitasnya tidak bisa disama-ratakan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Selain dari perjalanan proses dan pengalaman, tingkatan akal pula yang mempengaruhi perbedaan gaya bahasa penyampaian antara orang yang satu dan yang lainnya, Taruhlah seorang saintis akan berbeda menyampaikan sesuatu dengan seorang rohaniwan.

Ketika sisi intelektualitas seseorang hanya dilihat berdasarkan tingkat akademi kesarjanaan dan alumni dari fakultas apa, maka secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa kebenaran hanya di dasarkan pada konsep dan teory-teory yang dibuat oleh para akademisi semata. Gaya hidup materialisme, sekulerisme dan pola hedonismelah yang menjadikan intelektual seseorang menjadi kerdil dan hanya berpegang pada literature model sehingga mengabaikan inti dari kebijakan itu sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui, materialisme, sekulerisme dan hedonisme adalah sekumpulan paham yang bersifat keduniawian yang berfokus pada status quo yang meliputi harta, popularitas, tahta, jabatan, dan kekuasaan dengan hukum rimba yang berlaku adalah siapa yang memiliki kelima hal tersebut maka ialah yang menang.

Diawal paragraf kupaparkan bahwa dogma-dogma yang ada semakin hari semakin melenceng dari aturan yang semestinya. Hal ini dikarenakan ego masing-masing individu yang merasa benar dan ingin menguasailah yang kemudian perlahan-lahan membelok arah menjadi sebuah tujuan dan kepentingan kelompok. Untuk mencapai kepentingan tersebut biasanya tiap-tiap individu akan mencari pembenaran atas pemikirannya dengan menciptakan pola-pola berantai hingga terdapat celah untuk masuk sebagai penguasa ketika ia telah sampai pada tahap popularitas. Lalu dimana kebenaran itu sendiri?? Ketika tujuannya adalah bukan pada inti dari kebenaran. Lantas bagaimana ia bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bijaksana di suatu negeri bila hakikat dari kebijakan itu telah dipergunakan sebagai tujuan ego dan kekuasaan. Apa yang didapat dari pemuasan ego? Bismillah… akan kucoba jabarkan disini.

Ego adalah sebuah keinginan untuk memenuhi nafsu. Menurut pengamatanku, tindakan seseorang sebenarnya akan menjadi jauh lebih rumit dibandingkan apa yang ada dipikirannya sebelum saat ia bertindak. Jelas setiap manusia akan melakukan sesuatu atas dasar alasan pada beberapa kebutuhan dan keadaan. Namun saat tindakan itu bersinggungan dengan sekumpulan tindakan-tindakan dari individu lainnya maka beberapa masalah akan muncul sebagai akibat dari bersentuhannya ego-ego dari setiap isi kepala. Iya, setiap manusia memang membawa masalah yang berbeda-beda, jadi ketika mereka berkumpul jelas akan menjadi sekumpulan masalah. Dan tantangan sebagai seorang manusia yang menjadi mahluk sosial adalah tentang bagaimana mengendalikan dorongan-dorongan negatif dari dalam diri agar bisa menyelaraskan kehendak dengan lingkungan sekitar. Dan sebagai manusia yang memiliki kebebasan, kita berhak untuk memilih. Ingin menjadi pengendali ego? Atau malah dikendalikan oleh ego kita sendiri.

Mengapa kita merasa tidak tenang?

Karena ego pada hakikatnya adalah sebuah tuntutan pencitraan diri terhadap persepsi orang lain atas keinginan diri seperti apa kita akan terlihat Berusaha mencari pengakuan hanya akan membuat pertempuran-pertempuran di dalam diri sendiri. Dan menurut saya perang yang paling menyakitkan adalah berperang dengan ego sendiri, kemenangan terbesar dari sebuah peperangan adalah ketika kita mampu menaklukan ego yang menuntut segala keindahan, kebahagiaan dan kesempurnaan. Intinya adalah kebahagiaan tidak akan pernah didapatkan dari pemenuhan keinginan yang berasal dari ego.

1. Dimanakah kebenaran itu?

Kebenaran adalah mutlak milik sang Maha benar, Al-Haqq. Dialah Allah SWT yang memiliki sifat-sifat benar itu, Ketika kita menginginkan sebuah kebenaran maka sudah selayaknya kita mencari kebenaran tersebut dengan mendekatiNya dari berbagai proses hidup yang melelahkan dan tidak mudah. Sebagai ilustrasi saya ambil satu contoh, sebelum seorang siswa mengerjakan soal-soal ujian sekolah maka hendaklah ia mempersiapkan diri dengan bekal mempelajari berbagai buku, menghafal berbagai rumus dan memahami berbagai materi dari gurunya. Tentu proses belajarnya membutuhkan konsentrasi, ikhlas, sabar, gigih dan pantang menyerah hingga tiba masa kenaikan kelas atau kelulusannya ia mampu mengerjakan semua soal dengan benar. Jika sekolah menjadikan buku sebagai pedoman bahan ajar, maka hidup membutuhkan kitab sebagai pegangan dan tuntunan. Setiap buku ada edisi revisi yang disempurnakan pada periode setelahnya, begitupun dengan kitab. Ada kitab-kitab awal hingga kitab yang disempurnakan yaitu Al-Qur’an.

2. Apa yang didapat dari pemuasan ego?

Yang didapat hanyalah sifat-sifat tercela seperti menyalahi hak orang lain demi memenuhi keinginannya, menjadikan kebenaran sebagai sebuah kesalahan dan kesalahan sebagai sebuah kebenaran demi mencapai tujuannya, sebagai contoh pada kasus suap, korupsi, dan sejenisnya. Dengan terus menerus seseorang memenangkan keinginannya maka itu artinya ia telah memberi makan egonya sendiri hingga membiarkannya tumbuh subur di dalam diri. Selama sifat-sifat tercela tidak di gantikan dengan sifat-sifat terpuji maka akan semakin jauh lah ia pada sang pemilik cahaya. Ego adalah bentuk lain dari syahwat, dan untuk menaklukkannya adalah dengan menahan diri atau berpuasa karena di dalam kelaparan terdapat sumber hikmah yang melahirkan kesederhanaan, rendah hati (tawadhu), dan ketaatan. Didalam ketaatan ada jiwa yang tunduk dan disiplin.
Jiwa yang tunduk pada aturan yang Haqq akan senantiasa disiplin menjalankan segala kebijakan pemerintahan dengan bijaksana dan rasa tanggung jawab kepada amanah, karena segala ketakutanNya adalah bukan kepada sesama manusia melainkan kepada sang maha Memerintah.

INNAMAL A’MALU BINNIYAT

Segala amalan, tergantung niat. Niat baik maka kebaikanlah yang akan didapat, begitu juga sebaliknya. Sebenarnya ini teori sederhana, orang awampun pasti sudah tak asing dengan hal ini, meski mereka mengenalnya dalam bahasa yang berbeda, ada yang menyebutnya sebagai karma, atau ada yang mengenalnya melalui pepatah “siapa yang menanam dia yang menuai”.

Seperti itulah hidup, berjalan sesuai dengan apa yang kita usahakan meski tak jarang perhitungan manusia itu berbeda 180 derajat dengan ketentuan Allah subhanahuata’ala pada akhirnya. Tetap saja, pada kenyataannya manusia adalah mahluk yang lupa diri.
Ada yang berjuang mati-matian membahagiakan suami, tapi qadarullah Allah mentakdirkan suami menjadi ujian baginya melalui berbagai perkara rumah tangga sehingga terlihat seperti ia tak becus mengurus suami.

Ada yang bertahun-tahun belum dikaruniai keturunan, meskipun sduah berikhtiar dan melakukan berbagai pengobatan, qadarullah Allah mentakdirkan ia mendapat ujian tanpa keturunan dengan menjadikannya terlihat seperti mandul.
Orang-orang, jangan langsung menyalahkan!
Si A tak becus ngurusi suami hingga suami berselingkuh!
Atau Si B itu tak subur hingga ia mandul!
Mulut-mulut, terlihat bagaikan pisau yang melukai begitu tajam dihati orang yang dighibahkan, kasihan. Sadarlah, jika alam semesta ini milik yang Maha Kuasa, segalanya berjalan sesuai takdir dan rancana-Nya, bahakan tak ada satu helai daun jatuh ke bumipun yang luput dari pengawasannya.

Kita tahu, jika niat itu bukanlah di akhir, tapi yang menentukan keberhasilan itu bukan di awal, bukan di niat. Meski niat awalnya bagus, tak menjamin tujuannya tercapai dengan mulus lurus. Disinilah sebab istiqomah itu perlu. Kenapa istiqomah, karena Allah akan memberikan ujian sesuai dengan niat kita.

“dan apakah kamu akan dibiarkan mengatakan bahwa kamu telah beriman sedangkan kamu belum diuji dengan sedikit kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan?”

MasyaAllah. Memang terasa sulit, karena istiqomah itu taruhannya adalah airmata dan kesukaran. Tapi, bukankah segala sesuatu yang sulit itu adalah kualitas tertinggi dari suatu perkara yang apabila kamu berhasil mendapatkannya akan membuatmu merasa bangga?

Jadi, bersabarlah…
Bersabarlah…

“ dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”

Tentang Perempuan

Aku seorang perempuan, dan aku ingin menceritakan tentang perempuan. Perempuan itu, mahluk unik yang terlihat rapuh namun menyimpan ketegaran dalam dirinya.

Berbeda 180 derajat dengan kaum lelaki yang terlihat kuat tapi sebenarnya rapuh di dalam. Itu sebabnya laki-laki butuh pendamping, karena dari perempuanlah mereka menemukan kekuatan, merasa berarti dan terlengkapi. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, hubungan antara laki-laki dan perempuan terkadang hanya menjadi sasaran keegoisan, tak lebih dari sekedar pemenuhan hasrat biologis daripada keharmonisan isi hati keduanya. Entah kenapa, banyak perempuan yang menjadi korban tersebut.
Kadang perempuan hanya berharap sebuah keberuntungan. Beruntung mendapat jodoh yang baik, yang sesuai ekspektasi dan pandai menjaga hati. Seringkali perempuan berharap berulangkali bahwa ia cukup beruntung telah mendapatkan laki-laki yang menggantikan sosok orangtuanya. Memanjakannya, mencukupinya, membahagiakannya dan membimbingnya.

Meski pada kenyataannya ia sama sekali menemukan fakta bahwa apa yang diharapkan hanyalah sebatas ekspektasi saja, namun lagi-lagi harapannya terus bertumbuh, suatu hari laki-lakinya pasti akan menjadi seperti harapannya. Itu sebabnya perempuan terlihat mudah memaafkan dan memberikan kesempatan.
Masalahnya adalah, terkadang laki-laki tak cukup pandai menempatkan diri dihadapan perempuannya. Kadang laki-laki cenderung berego tinggi untuk memberikan rasa nyaman dan melakukan yang terbaik bagi perempuannya. Entah kenapa dua mahluk yang memang berbeda ini seringkali mempertentangkan hal yang menjadi pemikiran masing-masing.

Perempuan adalah mahluk naif dan sedikit munafik. Dalam hati bisa saja ia menjerit sekeras-kerasnya namun dihadapan pasangan ia terlihat baik-baik saja dan tersenyum bahagia. Perempuan mahluk yang pandai menyimpan perasaan, bahkan untuk urusan cinta sekalipun ia sanggup memendam rasa cinta seumur hidup untuk seseorang meski raganya sudah dimiliki laki-laki lain. Karena apa, perempuan adalah mahluk yang menjadi payah saat berurusan dengan perasaan. Segala sesuatu yang membekas dalam hatinya sulit hilang meski puluhan tahun, itu sebabnya untuk urusan tertentu yang menyangkut perasaan perempuan adalah mahluk nomor satu dalam urusan ingat-mengingat, bukan dendam, sebab antara memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Perempuan tahu hal itu.
Disamping hal itu, perempuan seringkali memendam keinginan hanya untuk menjaga perasaan pasangan saja, berharap sang lelaki mengerti dan berpikir sendiri. sayangnya laki-laki tak cukup peka untuk bisa merasa segala yang perempuan rasa.

Tentang Cinta



Cinta adalah apa yang datang tanpa memikirkan untuk kembali pergi. Meski pergi itu tak selalu berarti meninggalkan, namun pasti setiap jiwa merasa resah menatap langkah-langkah yang menjauh.

Tiada restu yang tulus di hati yang merindu,Tiadapula hingar yang berpacu diantara gemuruh rindu.
Cinta itu tentang kebebasan, meski bebas bukan berarti lepas.
Pada akhirnya Bebas itu beradu dengan ikhlas.
Siapa yang pandai mengikhlaskan? Dialah jiwa yang kenyang menelan ribuan kehilangan
Dan mulai bangkit lanjutkan hidup
Tanpa cinta
Tanpa rindu
Tanpa rasa

Meski begitu, adakah sebuah hubungan yang terjalin tanpa rasa? Jika ada, dialah jiwa yang kelelahan .
Setiap manusia adalah pecinta.
Pada akhirnya semua pecinta tau
Pabila jiwa rela mencinta, rela pula ia terluka.
Siapapun yg menerima kedatangan seseorang, iapun harus rela melepaskan kepergian.


Lantas, bagaimana cinta jika “tanpa”?
Bagaimana?









Unhappy



Tidak tahu. Inilah akar penyebab ketidakbahagiaan. Manusia banyak yang melekatkan diri pada uang, materi, kekayaan, jabatan, rumah, keluarga, dll.

Ternyata, semakin besar kemelekatan kita terhadap individu atau objek tertentu, maka semakin besar pula kemungkinan untuk timbulnya ketidakbahagiaan dalam kehidupan kita.Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”_Imam Syafi’iKemelekatan terbesar yang dimiliki setiap orang adalah terhadap dirinya sendiri, yaitu pada pikiran dan tubuh. Bahkan bila terjadi sedikit saja ketidaknyamanan atau penyakit pada dirinya, hal ini bisa membuat seseorang menjadi tidak bahagia.
Lagi-lagi, ketika kurenungi semua ini, aku mulai menyadari bahwa aku semakin melekat pada suamiku. Seringkali realita tak seperti ekspektasi, itu sebabnya aku kerap kecewa.


Salahkah?
Mungkin iya aku salah.

Energi In Motion

Aku pernah emosi. 

Tidak, lebih tepatnya “sering”. Karena emosi tak hanya berupa amarah. Tapi bukankah setiap orang memiliki alasan atas apapun yang ia lakukan?

Dan aku…. punya alasan atas apa yang kulakukan ini.

Kebanyakan orang yang kutemui sering takut untuk mengakui keadaan diri yang sebenarnya dari dalam, sehingga memilih mengingkari perasaan sesungguhnya dengan berbagai anggapan dan keyakinan. 


Seperti contoh, “tidak apa-apa… aku baik-baik saja,” padahal didalam hatinya sedang berkecamuk. Atau menahan berbagai gerak emosi yang sudah seharusnya untuk dikeluarkan.
Seperti halnya dulu ketika aku merasakan marah, lebih memilih untuk memendamnya, saat merasakan sedih dan kecewa, lebih memilih untuk berpura-pura tegar dan mengumpulkan beragam kata motivasi untuk kembali siap menghadapi kehidupan selanjutnya di esok hari.
Tapi….

Bersiap itu memang  baik, mengumpulkan motivasi itu bagus, berpikir positif juga baik sekali. Namun, alangkah lebih baiknya jika sebelum mengumpulkan kekuatan untuk tegar dan berusaha kembali positif, Aku musti mengeluarkan dulu berbagai emosi yang sedang ku rasakan. 


Emosi itu ibarat kotoran, yang mesti dikeluarkan agar aku dapat menjadi bersih.
Emosi adalah Energy in Motion. Sehingga, karena emosi merupakan energi, maka mesti senantiasa disalurkan. 


Memendam emosi apapun bentuknya sama dengan menumpuk energi di dalam tubuh. 
Tak terbayangkan  jika setiap harinya aku terus menahan dan memendam emosi-emosi dalam tubuh , jika emosi itu negatif, maka tubuh pun seperti menjadi timbunan energi buruk yang perlahan menggerogoti fisik dari dalam.
Akhirnya? Bisa jatuh sakit. Aku pernah. Bahkan hingga jatuh pada titik terendah pertahanan tubuhku. Bisa dikatakan “sekarat”.
Sampai suatu hari pamanku berkata;

 “ Ley…Mulai sekarang, segala sesuatu jangan di pendam di dalam hati. Marahlah jika merasa marah. Nangislah jika merasa sedih”

Tak ada yang perlu ditahan. Jujurlah dengan diri sendiri. Terimalah apa yang di rasakan. Bersamaan dengan menerima, kau akan menemukan obatnya. Lepaskanlah, lepaskanlah.

Kini, aku menjadi seorang yang meledak-ledak. Ketika aku marah, alu langsung menunjukkan ketidak sukaanku saat itu juga. Alhasil, kini aku dicap sebagai seorang yang tidak penyabar. Suamiku, ibuku, ayahku, adikku, semuanya mengatakan aku pemarah dan temperamental.

Aku bingung, dulu aku suka memendam emosiku hingga tiba saatnya dokter memvonisku memiliki penyakit paru-paru yang sudah komplikasi ke hati dan jantung. Dari banayak artikel mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan karen seseorang suka memendam emosi. Ku turutilah saran pamanku untuk tak lagi memendam apapun. Tapi hasilnya orang-orang jadi semakin menyalahkanku.

Dalam hidup selalu seperti aku ini salah banyak. Semua yang kulakukan seakan tak memberi keberuntungan untukku pribadi. Aku semakin terpojok dengan sikapku sendiri. Ketika timbul suatu masalah dalam rumahtanggakupun aku yang jadi sasaran mata ibu ayahku, bagi mereka aku yang salah. Padahal ketika aku marah, jelas ada sesatu yang salah yang aku benci. Misalkan saat suamiku jalan dengan wanita lain. Ketika aku melampiaskan emosiku juateru aku yang jati tersangka dan disalahkan.

Apa semua laki-laki selalu begitu? Sulit menghargai perasaan isteri demi menyenangkan perasaan teman wanitanya? Betapa malang dan tidak beruntungnya aku.

Sekecil Apapun, Syukuri. Sejelek Apapun, Hargai.

Jaket sederhana untuk suamiku

Secara tiba-tiba, perasaan jengah muncul saat  ingin memberi sesuatu tapi pemberian itu tak dihargai dikarenakan si penerima yang  memang “minim” rasa syukur.


Dari situ akupun berpikir. Ibarat aku memberi hadiah pada A, dan akupun memberi hadiah pada B. Dengan Jenis hadiah yang berbeda, namun telah kusesuaikan hadiah tersebut dengan kebutuhan orang yang menerimanya. Namun A merasa iri akan hadiah yang dimiliki B, ia merasa hadiahnya tak sebagus hadiah milik B. Sehingga A tidak melihat betapa hadiah yang ia miliki sesungguhnya sudah sangat bagus dan pas untuk dirinya. Dan aku sebagai pemberi hadiah merasa sedih, saat A memandang hadiah yang kuberikan tak bagus, atau malah di anggap hadiah ku tak berharga. Aku akan sangat sedih.


Bagaimana dengan Tuhan? Saat Ia sudah memberikan sesuatu yang sudah sesuai bagi hambaNya, namun sang hamba malah tidak mau menerima pemberian itu, alih-alih bersyukur malah memandangnya buruk dan membandingkannya dengan yang lain.

Duhai…..Alangkahnya…..
Kita saja sakit hati jika hadiah yang kita berikan tak diterima orang, apalagi Tuhan yang sudah sangat baik baik dan maha adil dengan hadiah istimewa sesuai porsi masing-masing.
Segala yang diberikan Tuhan sudah sesuai dengan yang kita butuhkan.
Tinggal mau apa tidak untuk berterima kasih. Dan justru sudah seharusnya berterima kasih.


Tentang Rasa yang disebut ” iri ” , ia senantiasa muncul, di saat kita menginginkan hal yang dimiliki orang lain. Namun, itulah pilihan , apakah akan berusaha mengejar untuk juga memiliki hal yang dipunyai orang lain, ataukah bersyukur dengan yang sudah dimiliki. 
Mengenali diri, adalah harta terbaik yang sudah dimiliki setiap orang–Iklima.


“Bersyukur atas apa yang dimiliki, atau menyadari bahwa apa yang dimiliki sejatinya adalah titipan?”

Pada akhirnya kupelajari lagi satu hal bahwa Rasa Syukur itu mampu meredam ego dan rasa iri__Leyla

Seperti aku hari itu. Saat keuanganku sedang dilanda kemerosotan, aku tetap berusaha membahagiakan suamiku dengan cara membelikannya, baju, jacket dan celana.

Aku berharap ia semakin menyayangiku dan tak akan lagi memandang pada wanita lain selain aku. Tapi apa yang terjadi, ia menerima hadiahku dengan ogah ogahan. Tak ada sama sekali minat dan apresiasi dari apa yang menjadi pemberianku. Memang, aku membelinya dari uang nafkah jatahku, aku memang sudah resign dari pekerjaanku dan kini tak lagi mampu meraup rupiah seperti dulu. Mungkin karena ia merasa itu uang asalnya dari dia, jadi sama sekali tak ada pengorbananku disitu.

Padahal, aku membelinya dengan mengenyampingkan keperluanku saat itu. Keperluannya kuutamakan. Misal jaket untuk dia pakai agar tak kedinginan saat bepergian kerja musim penghujan. Celana ku belikan karena memang celananya sudah tak lagi tersedia banyak yang layak pakai.

Tapi sudahlah, ia malah meletakkan pemberianku dengan kakinya. Sungguh saat itu aku merasa benar benar terhina.

Bukannya aku tak ikhlas dengan apa yang sudah aku belikan, tapi setiap manusia butuh afeksi atas apa yang sudah ia usahakan.