KESADARAN DIRI

Pikiran dan jiwa yang terkungkung pada perasaan “tak sanggup” hanya akan membuatmu menjadi insan kerdil tanpa sayap dan tanpa kaki. Kita hidup di Bumi yang terus berputar, semuanya bergerak cepat dan dinamis. Kita di tuntut terus aktif berpikir-berpikir dan berpikir. Begitu banyak Firman Allah SWT yang menjelaskan tentang keutamaan tindakan berpikir. Manusia hidup dibekali akal, untuk memilah mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia. Beberapa ide dan ilham kadang menyergap singgah di lintasan otak meski tak sempat untuk di rekam lewat tulisan, namun setidaknya itu adalah cara Tuhan untuk berkata bahwa ada campur tangan-Nya disetiap peristiwa. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kita ini butuh berpikir bebas dan terbuka yang tetap berlandaskan pada sikap religius.

Perlu kugaris bawahi disini bahwa berpikir bebas bukan dalam artian bebas yang tanpa pegangan melainkan bebas pada lingkaran universal yang luas dan tidak semata terkungkung pada dogma-dogma yang semakin hari semakin melenceng pada aturan yang semestinya. Sikap religius adalah refleksi dari nilai-nilai spiritual dari dalam diri seseorang yang bersumber pada sang Maha sumber. Bebas dalam mengeksplorasi pemikiran dan ide-ide sebenarnya memiliki beberapa keuntungan. Yang pertama akan melahirkan pemikiran-pemikiran filusuf dengan ide yang lebih segar dan bersifat konstruktif, dialektis, integralistis dan kritis, tak jarang juga para pujangga dilahirkan dengan bekal pemikiran terbuka dalam sistem pemikiran, pemahaman yang keterpaduannya menghasilkan sebuah keindahan kalimat dan itu dinamakan seni. Jadi dapat kita simpulkan bahwa ada keterkaitan antara seni dan spiritual.
Tentu saja pemikiran ini tidak lahir begitu saja, setiap ide berawal dari inspirasi, setiap inspirasi dimulai dari ilham, setiap ilham bersumber pada sang Maha sumber yaitu Allah azza wajalla sang maha pemilik ilmu. Ilmu sebagaimana cahaya, dan Allah pula sang pemilik cahaya itu. Sudah menjadi ketentuan bahwa tiap-tiap yang mendekati sumber cahaya pasti akan terkena biasnya. Maka inspirasi atau ilham akan sulit di dapat ketika seseorang berada diluar zona spiritual garis dimensi vertikal menuju sumber pengetahuan itu sendiri. Semakin ia berjalan ke arah kegelapan maka semakin menjauh pula bias cahaya disekitarnya yang menciptakan rasa gelap, sesak atau bahkan sempit di dada.

Ide-ide tak harus didapatkan hanya dari pendidikan akademi, tapi juga bisa didapat dari setiap peristiwa yang terjadi. Hal yang miris di negara ini adalah ketika kebanyakan orang bertanya “konsepnya apa dan itu teori siapa?” disaat seseorang mencoba menyampaikan sebuah gagasan dan pemikiran. Tak jarang gagasan-gagasannya langsung serta-merta dipatahkan hanya karena cara penyampaian dan gaya bahasanya berbeda dengan beberapa konsep dan teks yang pernah ada sebelumnya, meskipun inti dan tujuannya sama namun para manusia tekstual ini tak akan bisa mencerna dan memahami makna dan hakikat dari apa yang dipelajarinya tersebut. Konsep pemikirannya kaku pada batasan teks yang dipelajarinya saja tanpa tahu makna dan tujuannya.

Disinilah perbedaan ilmu hakikat dan ilmu tekstual. Setiap orang memang hanya menyampaikan sesuai dengan pemahamannya, dan pemahaman berkaitan pula dengan pencapaian akal yang kualitasnya tidak bisa disama-ratakan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Selain dari perjalanan proses dan pengalaman, tingkatan akal pula yang mempengaruhi perbedaan gaya bahasa penyampaian antara orang yang satu dan yang lainnya, Taruhlah seorang saintis akan berbeda menyampaikan sesuatu dengan seorang rohaniwan.

Ketika sisi intelektualitas seseorang hanya dilihat berdasarkan tingkat akademi kesarjanaan dan alumni dari fakultas apa, maka secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa kebenaran hanya di dasarkan pada konsep dan teory-teory yang dibuat oleh para akademisi semata. Gaya hidup materialisme, sekulerisme dan pola hedonismelah yang menjadikan intelektual seseorang menjadi kerdil dan hanya berpegang pada literature model sehingga mengabaikan inti dari kebijakan itu sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui, materialisme, sekulerisme dan hedonisme adalah sekumpulan paham yang bersifat keduniawian yang berfokus pada status quo yang meliputi harta, popularitas, tahta, jabatan, dan kekuasaan dengan hukum rimba yang berlaku adalah siapa yang memiliki kelima hal tersebut maka ialah yang menang.

Diawal paragraf kupaparkan bahwa dogma-dogma yang ada semakin hari semakin melenceng dari aturan yang semestinya. Hal ini dikarenakan ego masing-masing individu yang merasa benar dan ingin menguasailah yang kemudian perlahan-lahan membelok arah menjadi sebuah tujuan dan kepentingan kelompok. Untuk mencapai kepentingan tersebut biasanya tiap-tiap individu akan mencari pembenaran atas pemikirannya dengan menciptakan pola-pola berantai hingga terdapat celah untuk masuk sebagai penguasa ketika ia telah sampai pada tahap popularitas. Lalu dimana kebenaran itu sendiri?? Ketika tujuannya adalah bukan pada inti dari kebenaran. Lantas bagaimana ia bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bijaksana di suatu negeri bila hakikat dari kebijakan itu telah dipergunakan sebagai tujuan ego dan kekuasaan. Apa yang didapat dari pemuasan ego? Bismillah… akan kucoba jabarkan disini.

Ego adalah sebuah keinginan untuk memenuhi nafsu. Menurut pengamatanku, tindakan seseorang sebenarnya akan menjadi jauh lebih rumit dibandingkan apa yang ada dipikirannya sebelum saat ia bertindak. Jelas setiap manusia akan melakukan sesuatu atas dasar alasan pada beberapa kebutuhan dan keadaan. Namun saat tindakan itu bersinggungan dengan sekumpulan tindakan-tindakan dari individu lainnya maka beberapa masalah akan muncul sebagai akibat dari bersentuhannya ego-ego dari setiap isi kepala. Iya, setiap manusia memang membawa masalah yang berbeda-beda, jadi ketika mereka berkumpul jelas akan menjadi sekumpulan masalah. Dan tantangan sebagai seorang manusia yang menjadi mahluk sosial adalah tentang bagaimana mengendalikan dorongan-dorongan negatif dari dalam diri agar bisa menyelaraskan kehendak dengan lingkungan sekitar. Dan sebagai manusia yang memiliki kebebasan, kita berhak untuk memilih. Ingin menjadi pengendali ego? Atau malah dikendalikan oleh ego kita sendiri.

Mengapa kita merasa tidak tenang?

Karena ego pada hakikatnya adalah sebuah tuntutan pencitraan diri terhadap persepsi orang lain atas keinginan diri seperti apa kita akan terlihat Berusaha mencari pengakuan hanya akan membuat pertempuran-pertempuran di dalam diri sendiri. Dan menurut saya perang yang paling menyakitkan adalah berperang dengan ego sendiri, kemenangan terbesar dari sebuah peperangan adalah ketika kita mampu menaklukan ego yang menuntut segala keindahan, kebahagiaan dan kesempurnaan. Intinya adalah kebahagiaan tidak akan pernah didapatkan dari pemenuhan keinginan yang berasal dari ego.

1. Dimanakah kebenaran itu?

Kebenaran adalah mutlak milik sang Maha benar, Al-Haqq. Dialah Allah SWT yang memiliki sifat-sifat benar itu, Ketika kita menginginkan sebuah kebenaran maka sudah selayaknya kita mencari kebenaran tersebut dengan mendekatiNya dari berbagai proses hidup yang melelahkan dan tidak mudah. Sebagai ilustrasi saya ambil satu contoh, sebelum seorang siswa mengerjakan soal-soal ujian sekolah maka hendaklah ia mempersiapkan diri dengan bekal mempelajari berbagai buku, menghafal berbagai rumus dan memahami berbagai materi dari gurunya. Tentu proses belajarnya membutuhkan konsentrasi, ikhlas, sabar, gigih dan pantang menyerah hingga tiba masa kenaikan kelas atau kelulusannya ia mampu mengerjakan semua soal dengan benar. Jika sekolah menjadikan buku sebagai pedoman bahan ajar, maka hidup membutuhkan kitab sebagai pegangan dan tuntunan. Setiap buku ada edisi revisi yang disempurnakan pada periode setelahnya, begitupun dengan kitab. Ada kitab-kitab awal hingga kitab yang disempurnakan yaitu Al-Qur’an.

2. Apa yang didapat dari pemuasan ego?

Yang didapat hanyalah sifat-sifat tercela seperti menyalahi hak orang lain demi memenuhi keinginannya, menjadikan kebenaran sebagai sebuah kesalahan dan kesalahan sebagai sebuah kebenaran demi mencapai tujuannya, sebagai contoh pada kasus suap, korupsi, dan sejenisnya. Dengan terus menerus seseorang memenangkan keinginannya maka itu artinya ia telah memberi makan egonya sendiri hingga membiarkannya tumbuh subur di dalam diri. Selama sifat-sifat tercela tidak di gantikan dengan sifat-sifat terpuji maka akan semakin jauh lah ia pada sang pemilik cahaya. Ego adalah bentuk lain dari syahwat, dan untuk menaklukkannya adalah dengan menahan diri atau berpuasa karena di dalam kelaparan terdapat sumber hikmah yang melahirkan kesederhanaan, rendah hati (tawadhu), dan ketaatan. Didalam ketaatan ada jiwa yang tunduk dan disiplin.
Jiwa yang tunduk pada aturan yang Haqq akan senantiasa disiplin menjalankan segala kebijakan pemerintahan dengan bijaksana dan rasa tanggung jawab kepada amanah, karena segala ketakutanNya adalah bukan kepada sesama manusia melainkan kepada sang maha Memerintah.

Tinggalkan komentar