Alhamdulillah memang perempuan mahluk yang spesial, bisa merasakan bagaimana susahnya mencari nafkah dan uang, tapi laki-laki tak pernah bisa merasakan susahnya mengandung sampai melahirkan. Itu sebabnya perempuan lebih bisa mengerti bagaimana seharusnya ia menahan hasrat ingin berbelanjanya saat suami tak memiliki cukup uang. Tapi sebaliknya, lelaki sangat susah mengerti keadaan dan kebutuhan perempuan saat dimasa kehamilan.
Dimasa-masa itu, perempuan amat butuh bantuan dan dukungan lelakinya, baik secara moriil maupun materiil. Bukan mereka manja ketika mereka inginnya makan ini dan itu, rewel dan tiba-tiba bertingkah menyebalkan. Kalian tak pernah tahu hai kaum lelaki. Tubuh yang terasa melayang, pandangan yang rasanya memutar sehingga bumi ini terlihat terbalik semua, isi perut yang rasanya seperti diputar balikkan dan tubuh yang sakit sakit semua. Wallahu alam, Hanya Allah yang tahu deritanya seorang perempuan dan itu sebabnya Dia menjadikan perempuan itu spesial dan mendapat penghormatan tertiggi dari sang ayah ketika telah menjadi ibu. Itusebabnya jadi perempuan itu sebenarnya anugerah, ia bisa masuk surga lewat pintu mana saja sesuka hatinya hanya dengan beberapa persyaratan saja.
Apabila ia mengerjakan shalat, puasa dan zakat, apabila ia tidak durhaka pada orang tua dan menaaati suami.
Masalahnya adalah terkadang ahlak suami tidak bisa selalu ditaati. Suami bukanlah mahluk sempurna, yang seluruh tindakan dan ucapannya benar. Disinilah dilema kaum perempuan. Akan sangat sulit baginya menjalani kehidupan rumah tangga di bawah nahkoda yang salah.
Aku sebagai perempuan pernah, mengalami masa-masa berat selama kehamilanku. Suamiku sering bekerja di luar kota, dan aku sering sendirian dirumah, mengerjakan segala pekerjaan seorang diri. Kadang kelelahan, kadang merasa kesepian. Aku kerap merasa depresi dan sangat patah hati. Tiba-tiba saja aku jadi teramat sensitif. Well, itu pengaruh hormon. Seperti yang dijelaskan di artikel berikut: https://www.orami.co.id/magazine/mengapa-ibu-hamil-lebih-sensitif-dan-mudah-marah/
Aku merasa suamiku kurang mengerti keadaanku, akupun merasa suamiku minim pengetahuan tentang kondisi psikologis seorang wanita hamil. Aku hanya ingin dimengerti, disayang, diperhatikan dan dimanja-manja, tapi kerapkali suami menganggap keinginanku itu berlebihan.
Suatu hari, suatu peristiwa menyakitkan terjadi dalam kehidupan pernikahanku. Suami mulai berani membonceng wanita lain tanpa seizinku dan itu sangat menyakitkan, membuat kondisi psikologisku terganggu dan dilanda kesedihan berkepanjangan. Stress dapat menyebabkan kelahiran prematur, dan itu terjadi padaku dan bayiku.
Aku ingat, perempuan itu bernama Dita yang merupakan rekan kantornya.
Aku jelas marah, terlebih ketika suami memberiku alasan bahwa ia mengantar Dita karena Dita meminta tolong. Jelas jelas ketika aku yang meminta tolong padanya, justru ia banyak alasan dan kerap menolak dengan alasan sibuk dan lelah, tapi ketika wanita lain yang meminta, ia begitu mudah mengulurkan tangannya meski ia saat itu kelelahan sepulang kerja. Iapun rela membohongi aku isteri sahnya demi menolong rekan wanitanya. Kupikir suamiku benar2 keterlaluan dan aku tak akan bisa melupakan ini sampai kapanpun.
Apapun itu, wAllohu a`lam, mungkin tujuannya baik, mau mengantar (perhaps), ya tapi tetap saja masuk ke larangan khalwat. Niat baik tidak bisa membenarkan perbuatan yang caranya salah. Malah satu (yang nyopir) dapet keburukan (di sisi Allah), yang lain (yang numpang) juga dapet keburukan. Hal yang dianggap baik, sebenarnya dimurkai Allah. Maksudnya menolong, tapi justru menjerumuskan.
Khalwat (makani) artinya berdua di satu tempat dimana tidak ada orang lain. Dalam hal ini, motor dinilai sama dengan tempat, walaupun si pria (atau wanita) sedang mengemudikan motor. Ini kebanyakan tidak disadari, padahal juga termasuk menghadapi larangan:
“Janganlah salah seorang lelaki diantara kamu berkhalwat dengan perempuan
kecuali dengan mahramnya.” (HR Bukhari – Muslim)
Ungkapan itu berbentuk umum, tanpa pengecualian, mau itu bisa menjaga pandangan kek, ataukah tanpa disertai syahwat, sama saja. Pelarangannya tetap berlaku sebagaimana juga hukum haramnya. Khalwat juga tetap haram hukumnya walaupun bersama orang yang dipercaya, baik, dan sholeh sekalipun. Khalwat bertentangan dengan syari`at meski dengan dalih silaturrahim. Meremehkan khalwat berarti menyepelekan syari`at.
Dan…
Untuk para suami, hargailah perasaan isteri, hati kami ibarat kaca yang rapuh, mudah hancur dan serpihannya tak akan bisa utuh kembali. Kami akan selalu mengingat semua kejadian yang menyentuh perasaan kami hingga mati, dan luka tak akan pernah bisa sembuh seperti sebelum kau gores pisau dikulit kami.