
Secara tiba-tiba, perasaan jengah muncul saat ingin memberi sesuatu tapi pemberian itu tak dihargai dikarenakan si penerima yang memang “minim” rasa syukur.
Dari situ akupun berpikir. Ibarat aku memberi hadiah pada A, dan akupun memberi hadiah pada B. Dengan Jenis hadiah yang berbeda, namun telah kusesuaikan hadiah tersebut dengan kebutuhan orang yang menerimanya. Namun A merasa iri akan hadiah yang dimiliki B, ia merasa hadiahnya tak sebagus hadiah milik B. Sehingga A tidak melihat betapa hadiah yang ia miliki sesungguhnya sudah sangat bagus dan pas untuk dirinya. Dan aku sebagai pemberi hadiah merasa sedih, saat A memandang hadiah yang kuberikan tak bagus, atau malah di anggap hadiah ku tak berharga. Aku akan sangat sedih.
Bagaimana dengan Tuhan? Saat Ia sudah memberikan sesuatu yang sudah sesuai bagi hambaNya, namun sang hamba malah tidak mau menerima pemberian itu, alih-alih bersyukur malah memandangnya buruk dan membandingkannya dengan yang lain.
Duhai…..Alangkahnya…..
Kita saja sakit hati jika hadiah yang kita berikan tak diterima orang, apalagi Tuhan yang sudah sangat baik baik dan maha adil dengan hadiah istimewa sesuai porsi masing-masing.
Segala yang diberikan Tuhan sudah sesuai dengan yang kita butuhkan.
Tinggal mau apa tidak untuk berterima kasih. Dan justru sudah seharusnya berterima kasih.
Tentang Rasa yang disebut ” iri ” , ia senantiasa muncul, di saat kita menginginkan hal yang dimiliki orang lain. Namun, itulah pilihan , apakah akan berusaha mengejar untuk juga memiliki hal yang dipunyai orang lain, ataukah bersyukur dengan yang sudah dimiliki.
Mengenali diri, adalah harta terbaik yang sudah dimiliki setiap orang–Iklima.
“Bersyukur atas apa yang dimiliki, atau menyadari bahwa apa yang dimiliki sejatinya adalah titipan?”
Pada akhirnya kupelajari lagi satu hal bahwa Rasa Syukur itu mampu meredam ego dan rasa iri__Leyla

Seperti aku hari itu. Saat keuanganku sedang dilanda kemerosotan, aku tetap berusaha membahagiakan suamiku dengan cara membelikannya, baju, jacket dan celana.
Aku berharap ia semakin menyayangiku dan tak akan lagi memandang pada wanita lain selain aku. Tapi apa yang terjadi, ia menerima hadiahku dengan ogah ogahan. Tak ada sama sekali minat dan apresiasi dari apa yang menjadi pemberianku. Memang, aku membelinya dari uang nafkah jatahku, aku memang sudah resign dari pekerjaanku dan kini tak lagi mampu meraup rupiah seperti dulu. Mungkin karena ia merasa itu uang asalnya dari dia, jadi sama sekali tak ada pengorbananku disitu.
Padahal, aku membelinya dengan mengenyampingkan keperluanku saat itu. Keperluannya kuutamakan. Misal jaket untuk dia pakai agar tak kedinginan saat bepergian kerja musim penghujan. Celana ku belikan karena memang celananya sudah tak lagi tersedia banyak yang layak pakai.
Tapi sudahlah, ia malah meletakkan pemberianku dengan kakinya. Sungguh saat itu aku merasa benar benar terhina.
Bukannya aku tak ikhlas dengan apa yang sudah aku belikan, tapi setiap manusia butuh afeksi atas apa yang sudah ia usahakan.