PEREMPUAN BERPASHMINA BASAH ITU…



Perempuan Berpashmina Basah
Oleh: Leyla Fajr





Hari ini, di pagi dingin selepas hujan.





Retinaku menangkap seraut wajah lembut memucat, di balik  balutan pashmina basah.





Di seberang sini, kuterjemah keadaannya bagai raut kekalahan.





Kemudian…





“Aku lelah.” katanya lirih, menatapku sayu.





“Kenapa? bukankah kau telah berjalan sejauh ini, beristirahatlah di pangkuan Allah dalam do’a, mungkin dengan istirahat sejenak beban itu akan hilang.” Ku jawab keluhnya dengan desis separuh di ujung lidah yang kelu.





“Apa segala yang ku cari itu ada di jalan ini? benarkah akan ku temui?  kapan?” Ia terus bertanya dalam tatapan nanar di hadapku.





Kutatap ia dalam-dalam.





Dua sisi berlawanan  muncul dalam diriku. Alter egoku berontak, kuasai pengendalian diri.





TIDAK!





Wajah itu, di cermin dengan pashmina yang basah itu ternyata adalah aku!





Menuntutku untuk menjawab  satu hal, tentang apa itu ‘pertahanan’.





Baiklah, dengarkan aku wahai perempuan berpashmina basah…





Tatap aku di seberang sini! aku yang menjadi bagian dalam dirimu, aku duduk di dalam nuranimu, aku hidup dalam hatimu, sebagai sahabat yang ingatkan salahmu.





Aku berdiri dalam sanubarimu sebagai teman, membenarkan saat kau ragu berbuat kebaikan. Akulah inspirasimu, ketika kau  jengah dan kehilangan banyak ide. Kita tumbuh bersama dalam kreativitas tanpa batas  untuk sesuatu yang kita cari, damai.





Hari ini…
Dengarlah….





Kukatakan bahwa, ketidakpastian akan selalu  datang meski tak pernah kita undang, meski  segala persiapan  dan harapan begitu matang. Karena yang pasti itu hanya milik Dia sang Maha Pasti.







Seringkali, kita bulatkan tekad diawal untuk terus berjalan ke depan, tetiba ragumu muncul, kakimupun mulai ingin kembali mundur ke belakang.





Baiklah, kita sebut rasa itu sebagai “khawatir”. Khawatir kerap ada di pikiranmu seperti halnya pilihan di dalam kehidupan. Pilihan untuk membunuhnya, atau biarkan saja ia hidup dengan subur di dalam pikiran.





Kita biasa menyebut cara kerjanya seperti virus,





“ada virus di otakku!”
atau
“celaka! beberapa virus berusaha menyerang otakku!”





Seperti itulah biasanya teriakmu  saat ia datang menyerang, semakin lama ia tumbuh, ia akan berkembang biak dan mematikan.





Iya! mematikan.





Yang mati adalah semangatmu!
Lantas bagaimana kau akan terus melangkah dan berkarya bila semangat itu kini gugur? hah?
Dan kali ini kau tidak meneriakkan apapun. Kau hanya diam membiarkannya hidup dan akhirnya berkata “Aku lelah” di hadapanku? di depan cermin kita! Tidak lagi, jangan..





Wahai perempuan yang memakai pashmina basah di depan cermin! apa kau lupa? seorang guru bijak yang menginspirasimu, pernah sampaikan  hadis yang isinya begini, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Minta pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan, jangan berkata “seandainya dulu saya berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu” akan tetapi katakanlah “Qadarallahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang di putuskan-Nya. “





Jelas,  buang rasa khawatir dengan mengembalikannya lagi pada Allah, memasrahkan pada ketentuanNya.





Bersama waktu, takdir terjawab, bersabarlah wahai hati……





Perempuan yang memakai pashmina basah di depan cermin…





Sekarang bicara mengenai waktu, begitu misterius, tapi begitu simple. Ia hanya  terus berjalan tanpa bisa diputar ulang, tanpa mampu dihentikan.





Saat kita diam ia berjalan, saat kita berlaripun ia tetap berjalan, menuju tempat pemberhentian.





Ah…aku jadi teringat sedikit bait lagu kang Opick pagi ini, mari sedikit bersenandung….
“Andai bisa ku mengulang waktu hilang dan terbuang andai bisa ku kembali hapus semua perih, tapi waktu tak berhenti, tapi detik tak kembali harap ampunkan hambamu ini.”





Hanya sepi.





Hanya nama, nanti yang akan tersisa, pada mereka orang-orang yang kita tinggalkan.





Hanya amal, yang   menolong dalam dingin dan gelapnya kematian!





Wahai perempuan yang memakai pashmina basah di depan cermin!





Waktu itu pasti datang menghampiri.





Waktu itu, tak lain adalah sebuah kematian.





Lalu sejatinya hidup ini hanya menuju ketiadaan.





Dari tiada hidup itu bermula, menjadi ada, lalu ditiadakan kembali.





Jadi, sekeras apapun langkah kaki berjalan ke arah yang kau inginkan, tetap waktu menuntunmu  pada garis MATI di ujung kesempatan berada di Bumi.





Untuk apa lagi khawatir itu dipelihara?





Khawatir tak kawin-kawin, khawatir tak punya anak, khawatir pengangguran, khawatir tak dapat uang, khawatir tak bisa makan, khawatir tak bisa bahagia, khawatir ini itu dan bla bla bla bla.





Let’s Stop think about it!





Justru kekhawatiranlah yang membuat hati jauh dari ketenangan.





Toh bukankah hidup sudah ada yang mengatur, semuanya telah tertera dengan pena Allah tentang bagian kebahagiaan, bagian kesedihan, bagian rezeki, dan bagian hidup matinya masing-masing.





Tiada yang sama dan tiada yang copy-paste karena Allah telah memberi sesuai dengan porsi masing-masing.





Sesuai porsi? berarti kalau mengharap porsi besar ya jadilah orang besar?
Allah memberi sesuai kebutuhan kan?
Apa begitu? entah juga…tapi Tunggu saja jadwalnya dengan terus berusaha.





Kau tahu bahwa Allah adalah dokter terbaikmu.
Kau juga tahu bahwa Allah sahabat dan Kekasih terbaikmu.
Kau juga tahu bahwa Allah adalah guru terbaikmu.





Pelajaran-NYa tak pernah terhenti diberi sebagai pelajaran hidup, wahai perempuan yang berpashmina basah di depan cermin….





Terkadang semuanya adalah bahasa, agar kita kembali pada kebenaran.





Cintai segala proses yang didapatkan, agar hati mampu selalu ikhlas dalam kedamaian.





Pasrah itu, bukan pasrah yang hanya sekedar diam dalam ratapan. Tak ada habisnya dunia ini dikejar, namun tiada tempat juga bagi manusia yang bermalas-malasan.





Bagai mana kacamata kita dalam memandang dunia, maka seperti itulah dunia memperlakukan kita.





“Kita tak mungkin ke masalalu untuk memperbaiki sesuatu yang rusak, tapi kita bisa memperbaiki hari ini dengan tetap berbuat kebaikan sampai semuanya akan di tutup oleh sesuatu yang bernama kematian.”~Leyla. F




images (19)