Energi In Motion

Aku pernah emosi. 

Tidak, lebih tepatnya “sering”. Karena emosi tak hanya berupa amarah. Tapi bukankah setiap orang memiliki alasan atas apapun yang ia lakukan?

Dan aku…. punya alasan atas apa yang kulakukan ini.

Kebanyakan orang yang kutemui sering takut untuk mengakui keadaan diri yang sebenarnya dari dalam, sehingga memilih mengingkari perasaan sesungguhnya dengan berbagai anggapan dan keyakinan. 


Seperti contoh, “tidak apa-apa… aku baik-baik saja,” padahal didalam hatinya sedang berkecamuk. Atau menahan berbagai gerak emosi yang sudah seharusnya untuk dikeluarkan.
Seperti halnya dulu ketika aku merasakan marah, lebih memilih untuk memendamnya, saat merasakan sedih dan kecewa, lebih memilih untuk berpura-pura tegar dan mengumpulkan beragam kata motivasi untuk kembali siap menghadapi kehidupan selanjutnya di esok hari.
Tapi….

Bersiap itu memang  baik, mengumpulkan motivasi itu bagus, berpikir positif juga baik sekali. Namun, alangkah lebih baiknya jika sebelum mengumpulkan kekuatan untuk tegar dan berusaha kembali positif, Aku musti mengeluarkan dulu berbagai emosi yang sedang ku rasakan. 


Emosi itu ibarat kotoran, yang mesti dikeluarkan agar aku dapat menjadi bersih.
Emosi adalah Energy in Motion. Sehingga, karena emosi merupakan energi, maka mesti senantiasa disalurkan. 


Memendam emosi apapun bentuknya sama dengan menumpuk energi di dalam tubuh. 
Tak terbayangkan  jika setiap harinya aku terus menahan dan memendam emosi-emosi dalam tubuh , jika emosi itu negatif, maka tubuh pun seperti menjadi timbunan energi buruk yang perlahan menggerogoti fisik dari dalam.
Akhirnya? Bisa jatuh sakit. Aku pernah. Bahkan hingga jatuh pada titik terendah pertahanan tubuhku. Bisa dikatakan “sekarat”.
Sampai suatu hari pamanku berkata;

 “ Ley…Mulai sekarang, segala sesuatu jangan di pendam di dalam hati. Marahlah jika merasa marah. Nangislah jika merasa sedih”

Tak ada yang perlu ditahan. Jujurlah dengan diri sendiri. Terimalah apa yang di rasakan. Bersamaan dengan menerima, kau akan menemukan obatnya. Lepaskanlah, lepaskanlah.

Kini, aku menjadi seorang yang meledak-ledak. Ketika aku marah, alu langsung menunjukkan ketidak sukaanku saat itu juga. Alhasil, kini aku dicap sebagai seorang yang tidak penyabar. Suamiku, ibuku, ayahku, adikku, semuanya mengatakan aku pemarah dan temperamental.

Aku bingung, dulu aku suka memendam emosiku hingga tiba saatnya dokter memvonisku memiliki penyakit paru-paru yang sudah komplikasi ke hati dan jantung. Dari banayak artikel mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan karen seseorang suka memendam emosi. Ku turutilah saran pamanku untuk tak lagi memendam apapun. Tapi hasilnya orang-orang jadi semakin menyalahkanku.

Dalam hidup selalu seperti aku ini salah banyak. Semua yang kulakukan seakan tak memberi keberuntungan untukku pribadi. Aku semakin terpojok dengan sikapku sendiri. Ketika timbul suatu masalah dalam rumahtanggakupun aku yang jadi sasaran mata ibu ayahku, bagi mereka aku yang salah. Padahal ketika aku marah, jelas ada sesatu yang salah yang aku benci. Misalkan saat suamiku jalan dengan wanita lain. Ketika aku melampiaskan emosiku juateru aku yang jati tersangka dan disalahkan.

Apa semua laki-laki selalu begitu? Sulit menghargai perasaan isteri demi menyenangkan perasaan teman wanitanya? Betapa malang dan tidak beruntungnya aku.